Lampung Selatan,www.Lensa Media. net – Karya Nelson, Ketua DPC Corong Rakyat Indonesia, menyoroti progres pengerjaan proyek tahap 2 peningkatan pengaman Pantai Canti dan Pantai Banding, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, senilai Rp27.073.792.190,- yang bersumber dari APBN 2025. Proyek ini dilaksanakan oleh SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Mesuji Sekampung di bawah Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PUPR.
Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa material batu bolder yang dikirim oleh subkontraktor lokal atau pihak ketiga diduga bukan kategori batu pemecah ombak seperti yang direncanakan, melainkan batu lempengan atau batu pondasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait kesesuaian material dengan fungsi utama proyek pengaman pantai.
Karya Nelson menegaskan, proyek ini merupakan bagian dari rangkaian proyek strategis yang sebelumnya sempat mangkrak beberapa kali karena tender gagal berulang kali, salah satunya disebabkan nilai pagu kegiatan lanjutan yang terlalu “ngepres”. Kondisi ini menekankan pentingnya pengawasan ketat agar proyek tidak terhenti dan anggaran negara dapat digunakan secara optimal.
“Pengawasan dari pihak Balai Besar sangat penting. Proyek ini merupakan tahap terakhir dari rangkaian pembangunan pengaman pantai mulai dari Kunjir–Waymuli–Pangku–Rajabasa, hingga Pantai Banding–Canti di Kecamatan Rajabasa. Kita tidak boleh membiarkan pengerjaan proyek strategis ini berjalan tanpa betul-betul sesuai ketentuan dan acuan Dirjen PUPR,” tegas Karya Nelson.
Selain pengawasan teknis, Karya Nelson juga menyoroti persoalan kearifan lokal dan keterlibatan masyarakat setempat. Seorang warga, yang enggan disebutkan namanya, mengaku beberapa kali ingin ikut bekerja di proyek tersebut, tetapi selalu mendapat jawaban bahwa tenaga kerja lokal yang ada sudah penuh dan belum bisa diganti.
“Sebagai masyarakat setempat, rasanya kami hanya menjadi penonton di kampung sendiri. Setiap kali saya menanyakan kesempatan untuk bekerja, jawabannya selalu sama: belum ada yang bisa diganti. Artinya, kami hanya bisa menyaksikan jalannya proyek tanpa ikut merasakan manfaatnya,” kata warga tersebut.
Karya Nelson menegaskan, selain pengawasan teknis, keterlibatan masyarakat lokal harus menjadi prioritas. Dengan demikian, proyek strategis ini tidak hanya bermanfaat secara fisik, tetapi juga memberikan dampak positif langsung bagi warga setempat.

