Lampung,www.lensamedia.net — Ketika dua insan saling jatuh cinta dan memutuskan menikah, dunia seolah menjadi indah. Mereka membayangkan hidup bahagia berdua, membangun rumah tangga penuh cinta dan kasih sayang. Namun sering kali mereka lupa bahwa pernikahan bukan hanya tentang dua individu, tetapi tentang dua keluarga besar yang kini akan dipertemukan dalam satu ikatan sakral. Dalam pandangan Islam, pernikahan bukan sekadar urusan perasaan, melainkan juga ibadah sosial yang berdampak luas. Ia menyatukan dua silsilah, dua tradisi, dua karakter, dan dua cara pandang terhadap kehidupan. Karena itu, pernikahan memerlukan bukan hanya kesiapan cinta, tapi juga kesiapan mental, sosial, dan spiritual.
Akad nikah memang hanya berlangsung beberapa menit saja. Namun, yang terikat di dalamnya bukan hanya dua nama di buku nikah. Di balik ijab kabul itu, ada dua keluarga yang kini menjadi satu. Setiap senyum, sikap, dan keputusan dalam rumah tangga akan memberi dampak bukan hanya pada pasangan, tetapi juga pada hubungan antar keluarga besar. Sering kita dengar pepatah, “Menikah itu tidak hanya dengan dia, tapi juga dengan keluarganya.” Ungkapan ini mengandung kebenaran mendalam. Karena ketika seseorang menikah, ia membawa serta latar belakang keluarganya — nilai-nilai yang ia warisi sejak kecil, cara pandang terhadap kehidupan, hingga kebiasaannya dalam berinteraksi. Maka, penyesuaian bukan hanya antara suami dan istri, tetapi juga antara dua keluarga yang memiliki cara berbeda dalam memandang dunia. Dalam Islam, keluarga adalah unit sosial terkecil yang menjadi pondasi masyarakat. Jika hubungan dua keluarga ini terjalin baik, maka tercipta lingkungan sosial yang harmonis. Namun jika hubungan dua keluarga retak karena kurang komunikasi atau kesalahpahaman, maka rumah tangga pun bisa ikut goyah.
Salah satu hikmah besar dari pernikahan adalah memperluas silaturahmi. Melalui pernikahan, dua keluarga yang sebelumnya tidak saling mengenal kini menjadi saudara

