TULANG BAWANG, Lensa Media – Sebuah unggahan di media sosial yang memperlihatkan kontrasnya kondisi infrastruktur antara Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang Bawang mendadak viral dan memicu diskusi panas di kalangan publik. Fenomena ketimpangan pembangunan antar dua wilayah bertetangga ini langsung memantik reaksi keras dari Ketua DPW Badan Advokasi Investigasi Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (BAIN HAM RI) Provinsi Lampung, Ferry Saputra, YS, SH., C.MK.
Sorotan publik ini bermula dari postingan akun Facebook warga bernama Kristina Wati pada Rabu (28/01/2026). Dalam unggahannya, ia memperlihatkan kondisi Jalan Sp3 Bandar Anom, Rawa Jitu Utara, Mesuji, yang kini telah berubah wujud menjadi jalan cor beton yang kokoh, halus, dan mulus. Warga tersebut lantas menyandingkan harapan agar wilayah tetangga, yakni arah Wono Agung yang masuk wilayah Kabupaten Tulang Bawang, bisa segera menyusul agar tidak lagi “joglang-joglang” (berlubang) dan menyusahkan pengendara.
Induk Kalah dengan Anak
Menanggapi realitas lapangan tersebut, Ferry Saputra tidak segan melontarkan sindiran menohok kepada Bupati dan jajaran Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang. Kritik pedas ini disampaikannya saat ditemui awak media di kediamannya di Kampung Warga Indah Jaya, Kecamatan Banjar Agung, Tulang Bawang, pada Kamis (29/01/2026).
Bagi pria yang akrab disapa Tut Ferry ini, situasi tersebut adalah sebuah ironi memalukan di mana Kabupaten Tulang Bawang sebagai kabupaten induk, justru tertinggal jauh dari Kabupaten Mesuji yang notabene adalah “anak kandung” hasil pemekaran.
“Ini tamparan keras bagi pemerintah daerah. Seharusnya Pemkab Tulang Bawang bertanya pada diri sendiri, apa tidak malu dengan ‘anaknya’, Kabupaten Mesuji? Mesuji yang ibaratnya baru lahir kemarin sore saja sudah bisa mengejar ketertinggalan dan membangun jalan mulus, masa induknya yang sudah mapan justru diam di tempat?” sindir Tut Ferry.
Ironi ‘Dompet Tebal’ Tulang Bawang
Tut Ferry menyoroti bahwa alasan klasik soal keterbatasan anggaran tidak lagi relevan digunakan oleh Pemkab Tulang Bawang. Berdasarkan data, Tulang Bawang memegang “dompet” yang jauh lebih tebal. Sebagai kabupaten induk, Tulang Bawang memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan dana transfer pusat yang secara akumulatif jauh lebih tinggi dibandingkan Mesuji.
“Secara keseluruhan, APBD Kabupaten Tulang Bawang itu tetap lebih besar daripada Kabupaten Mesuji, baik dari sisi total nilai anggaran maupun kapasitas pembiayaan sektoral. Logikanya, Tulang Bawang punya keleluasaan finansial lebih besar untuk fungsi pelayanan umum dan pemeliharaan,” tegasnya.
Pembangunan ‘Asal Jadi’ dan Bukan Omon-omon
Kritik Tut Ferry tidak berhenti pada perbandingan anggaran. Ia juga menyoroti kualitas pengerjaan proyek di Tulang Bawang yang dinilai sangat mengecewakan. Menurutnya, kalaupun ada pembangunan infrastruktur yang berjalan, hasilnya justru kerap membuat warga kecewa karena diduga kuat dikerjakan secara sembrono atau asal jadi.
“Kalaupun ada pembangunan infrastruktur di Tulang Bawang, justru membuat warga masyarakat kecewa karena hampir semua pembangunan infrastruktur jalannya diduga dikerjakan asal jadi,” ungkap Tut Ferry dengan nada tinggi.
Ia menegaskan bahwa kritikannya berbasis data dan fakta di lapangan, bukan sekadar bualan politik semata. Ia bahkan menantang pihak terkait untuk turun langsung ke lokasi bersamanya.
“Apa yang saya katakan ini bukan omon-omon, bisa dibuktikan sendiri di lapangan. Kalau tidak percaya, bisa langsung saya tunjukkan di mana saja titik-titik proyek infrastruktur jalan yang bermasalah tersebut,” tantangnya menutup pembicaraan.
Pernyataan keras dari BAIN HAM RI ini diharapkan menjadi peringatan serius bagi Pemkab Tulang Bawang untuk tidak hanya fokus pada penyerapan anggaran, tetapi juga pada kualitas hasil pembangunan yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.(HANDRI)



