LAMPUNG TIMUR, Lensa Media – Kabupaten Lampung Timur seolah menjadi “surga” bagi proyek mangkrak dan “neraka” bagi uang rakyat. Lemahnya penegakan hukum dan tumpulnya pengawasan membuat pembangunan infrastruktur vital di daerah ini kerap kali hanya menjadi bancakan korupsi tanpa hasil nyata.
Contoh paling telanjang adalah Jembatan Way Bungur di Desa Kalipasir. Bertahun-tahun dinanti, proyek yang menelan anggaran puluhan miliar rupiah ini justru berakhir menjadi “monumen kegagalan”. Berganti-ganti kontraktor, berganti-ganti tahun anggaran, namun hasilnya nihil. Tidak ada jembatan yang berdiri, yang ada hanyalah tiang-tiang beton rapuh yang menjadi saksi bisu betapa bobroknya tata kelola pembangunan di Bumi Tuwah Bepadan.
Fakta Mengerikan di Balik Reruntuhan
Kegeraman publik kembali memuncak setelah akun Facebook Andre Angler Liar mengunggah video investigasi mandiri pada Selasa malam (03/02/2026). Dalam video tersebut, Andre “menelanjangi” kualitas konstruksi jembatan mangkrak tersebut yang dinilai sangat membahayakan dan asal-asalan.
“Ini saya spilkan jembatannya, silakan teman-teman seluruh Indonesia berkomentar. Ini jembatan yang dibangun sudah menghabiskan dana puluhan miliar tapi terbengkalai,” ujar Andre membuka videonya.
Andre memperlihatkan dimensi jembatan dengan lebar kurang lebih 6 meter yang seharusnya membentang di atas sungai selebar 60 meter. Namun, sorot kamera Andre kemudian fokus pada dinding jembatan yang sudah roboh, mengungkap fakta teknis yang mengerikan.
Konstruksi Asal-asalan: Beton Tanpa Besi Pengikat
Dalam videonya, Andre menunjukkan betapa rapuhnya struktur bangunan tersebut. Ia menunjuk dinding cor beton yang tebal (sekitar 3 jengkal), namun ternyata tidak memiliki besi penyambung (stek) antar-lapisan cor.
“Pembangunan seperti ini coba lihat, ini cor dinding lebar ya, tapi enggak ada satupun besi untuk saling menyambung antara tembok ini,” ungkapnya sambil menunjukkan visual reruntuhan.
Ia menjelaskan metode pengecoran yang dinilai fatal. “Ini step by step, dicor satu meter, berhenti, lalu dicor lagi ke atasnya. Akhirnya ambrol dan roboh. Berapa kerugian negara dengan pembangunan asal-asalan seperti ini?” gugatnya.
Tidak hanya itu, Andre juga menyoroti penggunaan besi tulangan yang berukuran kecil dan tidak sebanding dengan beban jembatan, serta beton-beton yang sudah retak dan patah sebelum jembatan itu berfungsi.
Paradoks Warga: Bersyukur Jembatan Roboh
Secara sarkas namun logis, Andre yang merupakan warga asli Desa Kalipasir, Kecamatan Way Bungur, justru mengucapkan syukur kepada Tuhan karena jembatan tersebut gagal diselesaikan. Menurutnya, jika jembatan itu dipaksakan jadi dengan kualitas buruk seperti itu, justru akan menjadi kuburan massal bagi warga.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur sekali jembatan ini tidak jadi. Allah SWT telah memberikan sentilan dengan sedikit merobohkan dinding jembatan ini. Ini bukti kualitasnya sangat membahayakan,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Kalau sampai jembatan ini jadi dengan kualitas seperti ini, wah banyak makan korban. Uang negara habis terbuang sia-sia di sini.”
Netizen Meradang: “Waktu Pilkada Suara Rakyat Diminta, Uangnya Dikorupsi”
Video investigasi Andre ini viral dan telah dibagikan ratusan kali, memancing reaksi keras dari warganet di kolom komentar. Netizen tidak hanya menyoroti kualitas bangunan, tetapi juga menyindir tajam para pejabat dan media.
Akun Facebook Zainab Zainab dengan lugas menduga adanya praktik korupsi. “Uangnya dikorupsi. Itu harus diviralkan agar pemerintah setempat mau membangun jembatan yang layak untuk rakyatnya. Terutama Gubernurnya, Bupatinya, dan Kepala Desanya,” tulisnya.
Sindiran politis yang menohok datang dari akun Syaparudin Pay yang mengingatkan pejabat akan janji manis saat pemilu. “Waktu Pilkada daerah situ ada TPS nggak mas? Suara rakyat diminta..” sindirnya, menyiratkan bahwa rakyat hanya dibutuhkan saat pencoblosan namun ditinggalkan saat pembangunan.
Bahkan, akun Kai Finch Canary turut menantang integritas media yang dianggap lamban meliput isu ini. “Mana nih rekan-rekan media, pada diem aja. Disuap duit berapa sampe gak naek beritanya? Inget bro kalian selain berprofesi sebagai peliput media, ketika balik ke rumah tetep jadi rakyat,” kritiknya pedas.
Kekhawatiran soal keselamatan juga diungkapkan akun Jariyah, “Takut nya menimpa orang itu dinding jembatannya,” tulisnya mengomentari visual tembok yang roboh. Sementara akun Priyono Sunardi meminta warga terus mengawal isu ini, “Di up teruuuus pak, biar panas mata dan telinga pemimpin daerahnya”.
Tuntutan Bongkar Total dan Perlawanan Warga
Melihat kondisi fisik bangunan yang dinilai gagal total (total failure), Andre mempertanyakan kelayakan jika proyek ini dilanjutkan di atas struktur yang sudah cacat.
“Apakah layak jembatan seperti ini mau dilanjut lagi? Terkecuali jembatan ini dihancurkan dan dibangun ulang. Karena ini sudah enggak layak sekali,” cetusnya.
Menutup videonya, Andre menegaskan bahwa dirinya dan warga tidak akan gentar menyuarakan kebenaran. Video ini adalah bentuk perlawanan terhadap pejabat yang tidak amanah.
“Kami akan selalu bersuara jika kami sudah terhimpit dan tertindas. Kami tidak akan pernah mundur selangkah pun untuk menghadapi para pejabat yang tidak amanah dalam tugasnya,” pungkas Andre. (HANDRI)




