Tulang Bawang, Lensa Media – Beredarnya foto pamflet menu program Makan Bergizi Gratis yang dinilai kelewat sederhana memicu perbincangan hangat di media sosial. Merespons polemik tersebut, Yeni selaku pengelola Satuan Pelayanan Pemberian Gizi (SPPG) Tunggal Warga #2 akhirnya memberikan klarifikasi resmi pada Rabu (25/2/2026) siang. Tanggapan tersebut disampaikan Yeni saat dihubungi oleh wartawan Lensa Media melalui pesan WhatsApp.
Pihak pengelola membeberkan rincian harga menu, alasan di balik pemilihan bahan makanan, hingga kendala anggaran yang dihadapi di lapangan.
Ikuti Arahan BGN dan Berdayakan UMKM Lokal
Menanggapi kritik publik di media sosial, Yeni menegaskan bahwa pihak SPPG Tunggal Warga #2 bekerja dengan panduan yang ketat. Ia menyatakan bahwa pengelola hanya menjalankan tugas dan menyajikan menu sesuai dengan arahan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurut Yeni, pihaknya memiliki batasan dalam membelanjakan anggaran. “Kami tidak diperbolehkan membeli sejumlah kue yang disebutkan dalam daftar yang kami terima dari BGN. Menu yang kami sajikan sudah disesuaikan dengan takaran kebutuhan gizi bagi anak-anak,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa BGN saat ini sangat mengutamakan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Syarat mutlaknya adalah produk makanan yang disediakan harus aman dikonsumsi dan memenuhi standar kebutuhan gizi anak sekolah.
Rincian Menu Rp9.400 dan Dampak Harga Ramadhan
Ketika ditanya mengenai kesesuaian menu yang viral dengan standar anggaran pemerintah, Yeni merespons dengan membagikan rincian pamflet daftar harga menu hari ini. Untuk porsi yang dibagikan kepada 2.956 anak penerima manfaat, satu paketnya dihargai Rp9.400.
Rinciannya terdiri dari Singkong Rebus (Rp3.000), Telur Bebek (Rp2.900), dan Pisang Bakar Keju (Rp3.500). Total nilai gizi per porsinya diklaim berada di kisaran 409 hingga 456 kilokalori (Kkal).
Terkait porsi yang dinilai minim, Yeni meminta masyarakat untuk memahami kondisi harga bahan pokok di lapangan saat ini.
“Mohon maaf, bisa cek survei ke lapangan, bahwa memang di bulan Ramadhan ini banyak terjadi kenaikan harga barang,” tuturnya.
Biaya Operasional dan Keterbatasan Pagu Anggaran Daerah
Lebih lanjut, Yeni menjelaskan bahwa nilai Rp9.400 tersebut tidak murni hanya untuk membeli bahan mentah. Ada biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh pihak pengelola untuk menyajikan makanan siap santap.
”Singkong dan pisangnya pun kita olah, tentu butuh biaya tambahan seperti gas, minyak goreng, tepung, dan lain-lain,” jelasnya.
Selain itu, Yeni menyebutkan adanya aturan pengadaan bahan baku dan batas maksimal anggaran (pagu) di daerah tersebut yang harus dipatuhi.
“Kami menyesuaikan dengan pagu anggaran di Tulang Bawang. Apalagi bahan baku juga kita ambil melalui koperasi, jadi kami benar-benar harus menyesuaikan dengan pagu yang ada,” tutupnya.
Catatan Kritis: Sudah Layakkah Menu Seharga Rp9.400?
Klarifikasi dari pihak SPPG Tunggal Warga #2 dengan menjabarkan kendala harga bahan pokok dan biaya operasional memang patut dihargai keterbukaannya. Namun, hal ini justru membuka ruang evaluasi yang lebih besar. Muncul pertanyaan kritis: Apakah menu yang hanya berisi singkong rebus, sebutir telur bebek, dan pisang bakar keju ini sudah layak dan memenuhi esensi sejati dari program “Makan Bergizi Gratis”? Dengan pagu anggaran Rp9.400 per porsi di Tulang Bawang, publik tentu menaruh harapan agar anak-anak mendapatkan variasi menu yang lebih seimbang—seperti sayuran segar dan ragam protein hewani—untuk menunjang tumbuh kembang mereka secara maksimal.
Jika anggaran sebesar itu hanya mampu menyajikan porsi seadanya akibat potongan operasional, alur koperasi, dan harga pasar, maka pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional perlu segera mengevaluasi besaran pagu anggaran tiap daerah. Jangan sampai niat baik mencerdaskan generasi penerus bangsa terhambat oleh realita anggaran yang tidak cukup untuk membeli sepiring gizi yang layak.(Handri)

