Tulang Bawang, Lensa Media – Anggota DPRD Komisi II Provinsi Lampung dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Daerah Pemilihan VI (Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Mesuji), H. Morisman Ismail, ST, secara resmi membuka Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK) ke-1 di Kampung Banjar Agung, Kecamatan Banjar Agung, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, Minggu 7 Desember 2025.
H. Morisman, yang akrab disapa Kak H. Moris, menjelaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini bertujuan utama untuk memperdalam pemahaman dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang makna serta implementasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Tujuan utama sosialisasi memperdalam pemahaman, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang makna dan implementasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Memperkuat karakter mencegah terkikisnya jati diri bangsa akibat pengaruh budaya luar atau kemajuan teknologi,” jelas Kak H. Moris.
Beliau juga menekankan pentingnya Pancasila sebagai fondasi bangsa yang harus diperjuangkan agar tidak luntur di era digital. Selain itu, sosialisasi ini bertujuan untuk menjaga Persatuan: Mempererat persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman suku dan budaya. Kemudian Mendorong Pengamalan: Mengajak masyarakat untuk tidak hanya menghafal, tetapi benar-benar mengamalkan nilai Pancasila dalam tindakan nyata.
Kak H. Moris menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa mengamalkan Pancasila adalah sebuah perjuangan menjaga bangsa, bukan hanya sekadar formalitas. Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dinilai sangat krusial dalam membangun karakter bangsa di tengah derasnya arus informasi digital.
Berdasarkan materi yang disampaikan oleh tokoh pers Tulang Bawang, Abdul Rohman, SH, dalam kegiatan tersebut, menyampaikan mengenai ideologi Pancasila dari sila ke-1 sampai ke-5 dan tantangan krisis karakter di era digital.
“Pancasila adalah dasar filosofis negara Indonesia yang menjadi pandangan hidup bangsa. Kelima silanya saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan utuh. Sila 1 (Ketuhanan Yang Maha Esa): Mengajak warga negara untuk beriman dan bertakwa sesuai agamanya, serta menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Sila 2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Menuntut perlakuan yang adil dan bermartabat terhadap setiap manusia, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Sila 3 (Persatuan Indonesia): Menekankan pentingnya persatuan, kesatuan, dan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi/kelompok. Sila 4 (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan): Inti dari demokrasi, di mana keputusan dicapai melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. Sila 5 (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia): Mewujudkan keadilan dalam kehidupan sosial dan ekonomi, didukung oleh semangat kerja keras dan gotong royong,” jelasnya.
Menurut Abdul Rohman, SH, kemajuan teknologi digital membawa dampak positif, namun juga memunculkan tantangan besar, khususnya dalam konteks krisis karakter bangsa.
“Penyebaran Informasi Negatif salah satu tantangan besar dalam kemajuan teknologi digital: Arus informasi yang tak terbendung, seperti hoax, ujaran kebencian (hate speech), dan propaganda, dapat merusak karakter bangsa dengan menumbuhkan sikap mudah percaya, intoleran, dan memecah belah persatuan (bertentangan dengan Sila ke-3). Pengaruh Budaya Asing yang Tidak Difilter: Generasi muda rentan terhadap pengaruh budaya luar yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, seperti hedonisme dan individualisme, yang mengikis semangat gotong royong dan kepedulian sosial (bertentangan dengan Sila ke-5),” ungkap Abdul Rohman.
Lebih lanjut Abdul Rohman mengatakan, Kemudahan bersembunyi di balik layar (anonimitas) sering kali menurunkan etika dan adab dalam berkomunikasi (cyberbullying), yang jelas bertentangan dengan nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Sila ke-2). Selain itu jika nilai-nilai Pancasila tidak diinternalisasi dengan kuat, kemajuan teknologi dapat mengikis jati diri, semangat nasionalisme, dan rasa bangga terhadap budaya sendiri.
“Solusi untuk mengatasi tantangan tersebut adalah Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat penting sebagai benteng utama. Penguatan pendidikan karakter yang berbasis Pancasila dan literasi digital yang kritis harus menjadi prioritas untuk memastikan fondasi bangsa tidak luntur di era digital.” Tukasnya.(EVI)

