Puisi : Handri
Di pucuk tertinggi tanah Lampung Barat aku berpijak,
Meninggalkan riuh rendah dunia yang kian menyesak.
Di sini, di Atap Lampung yang agung dan sunyi,
Aku datang membawa hati yang lelah berbunyi.
Angin gunung berhembus, dinginnya menembus kulit,
Membawa aroma tanah basah dan kabut yang berbelit.
Sejuk ini meredam panasnya pikiran yang berkecamuk,
Saat raga butuh jeda dari nasib yang sedang mengamuk.
Sejauh mata memandang, lukisan Tuhan terbentang nyata,
Hijau rimba, biru langit, menyatu tanpa sengketa.
Namun di balik takjub mata memandang cakrawala,
Ada jiwa yang sedang remuk redam menahan duka lara.
Dunia di bawah sana sedang tidak ramah padaku,
Roda ekonomi terhenti, mematahkan sendi dan bahu.
Angka-angka menghantui, tuntutan hidup menjerat leher,
Membuat hari-hari terasa gelap, pahit, dan getir.
Maka kuhadapkan wajah di ketinggian Pesagi ini,
Bukan untuk lari, namun untuk kembali mengenali diri.
Di antara awan yang berarak pelan menyentuh pipi,
Kusujud dalam doa, saat manusia lain terlelap mimpi.
“Tuhan, hamba kecil di hadapan gunung-Mu yang gagah,
Hamba lemah tertatih saat langkah mulai goyah.
Pintu rezeki terasa tertutup, jalan buntu di tiap sisi,
Hanya pada-Mu kutitipkan tangis yang tak tereksposisi.”
Perlahan, damai itu turun bersama embun yang menetes,
Membasuh keraguan, membuang rasa cemas dan stres.
Jika Engkau mampu tegakkan Pesagi tanpa tiang penyangga,
Tentu Engkau mampu angkat derajat hamba, membuka pintu surga.
Kini aku sudah turun, meski masalah belum sirna seketika,
Namun hati tak lagi kosong, ada iman di dalam dada.
Biarlah Pesagi menjadi saksi bisu ikhtiar dan pasrah,
Bahwa setelah kesulitan ini, pasti ada jalan yang cerah.

