Lensa Nasional

“Ironi 2026: Ratusan Siswa Way Bungur Antre Maut 4 Kloter Tiap Pagi, BAIN HAM Tagih Janji 300 Ribu Jembatan Presiden”

LAMPUNG TIMUR, Lensa Media – Di saat kalender telah menunjuk tahun 2026, sebuah ironi menyayat hati masih terpampang nyata di Kabupaten Lampung Timur. Bukan tentang kecanggihan teknologi atau kemajuan kota, melainkan tentang ratusan nyawa anak sekolah yang digantungkan di atas perahu kayu rapuh hanya untuk menuntut ilmu.

Pemandangan miris ini viral di media sosial setelah akun Facebook bernama Andre Angler Liar di group Publik INFO LAMPUNG TIMUR mengunggah video kondisi penyeberangan di Desa Kalipasir, Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur, Jum’at (30/01/2026). Dalam video tersebut, situasi tampak kacau dan menyesakkan dada. Bukan hanya satu atau dua orang, melainkan ratusan siswa dan guru terjebak antrean panjang yang mengular di bibir sungai.

Fakta Lapangan: 4 Kloter Antrean Maut

Berdasarkan dokumentasi video warga tersebut, terlihat jelas mobilitas penyeberangan yang sangat padat. Sang perekam video bahkan menyebutkan bahwa antrean pagi itu sudah memasuki “kloter keempat”. Ini mengindikasikan bahwa perahu penyeberangan (getek) harus bolak-balik berkali-kali mengangkut ratusan siswa secara bergantian karena kapasitas perahu yang terbatas.

“Kami datang untuk menjemputmu, anak-anak dari Way Bungur yang mau sekolah dan guru yang mau mengajar di Desa Kalipasir… Di sana sudah ada kloter keempat,” ungkap suara dalam video tersebut, menggambarkan betapa membludaknya jumlah siswa yang telantar di pinggir sungai.

Jeritan Warga: “Pemerintah Seolah Tutup Mata”

Dalam rekaman yang kini menjadi buah bibir masyarakat tersebut, terdengar suara perekam yang bergetar menahan emosi melihat antrean anak-anak yang tak kunjung habis. Ia menyoroti waktu yang terus berjalan, sementara ratusan siswa masih tertahan dan terancam terlambat.

“Sekarang ini sudah jam setengah 8 lewat 10 (07.40 WIB). Ini harusnya sudah masuk sekolah, tapi pasti terlambat. Nasib, kalau sudah anak sekolah terlambat itu pasti dia kena hukum,” keluhnya.

Puncaknya, sebuah kalimat menohok terlontar mewakili kekecewaan ribuan warga. Perekam video mempertanyakan kepekaan sosial para pejabat yang dinilai abai terhadap kondisi ini.

“Saya lihat Gubernur Lampung seperti ini… Tahun 2026 masih ada anak didik sekolah jalannya seperti itu? Masih naik perahu papan kayak gini? Pemerintahan Lampung ini harusnya berpikir, kenapa seolah tutup mata melihat kondisi ini?” ujarnya dengan nada kecewa.

BAIN HAM RI: Kritik Pedas untuk Tiga Pemimpin

Melihat fakta bahwa ada ratusan siswa yang harus menyeberang dalam 4 gelombang setiap pagi, Ketua DPW Badan Advokasi Investigasi Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (BAIN HAM RI) Provinsi Lampung, Ferry Saputra, YS, SH., C.MK. bereaksi keras.

Hal ini disampaikan Ferry saat dimintai tanggapannya melalui pesan WhatsApp, Sabtu (31/01/2026) malam, setelah wartawan Lensa Media mengirimkan video kondisi miris siswa tersebut kepadanya.

Ferry menilai pembiaran ini adalah bentuk kelalaian fatal. Ia melayangkan kritik tajam namun santun yang ditujukan langsung kepada tiga pucuk pimpinan: Bupati Lampung Timur, Gubernur Lampung, hingga Presiden RI Prabowo Subianto.

“Bayangkan, ada ratusan nyawa anak bangsa di atas air setiap pagi, dibagi dalam 4 kloter antrean. Ini bukan sekadar masalah infrastruktur, ini tragedi kemanusiaan! Di mana letak nurani para pemangku kebijakan? Apakah kita harus menunggu salah satu kloter itu terbalik dan ratusan nyawa melayang, baru batu pertama jembatan diletakkan?” ujar Ferry dengan nada bergetar menahan amarah.

Ia mempertanyakan kinerja Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dan Pemprov Lampung yang seolah “mati rasa”. “Bapak Bupati, Bapak Gubernur, tolong turun dari kursi nyaman Anda. Lihatlah ke Way Bungur. Jangan biarkan ratusan anak-anak kita, generasi emas yang sering kalian pidatokan itu, merasa menjadi anak tiri. Mereka antre berjam-jam, terlambat sekolah, hanya karena kalian lambat bekerja,” tegasnya.

Menagih Janji 300.000 Jembatan Presiden Prabowo

Lebih jauh, Ketua DPW BAIN HAM RI Lampung ini juga mengingatkan janji suci Presiden Prabowo Subianto. Ferry mengungkit pidato Presiden pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2025 lalu, di mana Presiden menargetkan pembangunan 300.000 jembatan dan membentuk Satgas khusus karena tidak tega melihat siswa bertaruh nyawa.

“Bapak Presiden Prabowo yang terhormat, kami menagih janji Bapak. Bapak berjanji membangun 300.000 jembatan. Hari ini, kami rakyat Lampung bertanya: Di mana jembatan untuk Desa Kalipasir? Mengapa ratusan anak kami masih harus berdesakan di atas perahu?” gugat Ferry.

Ia menutup dengan desakan tegas. “Apakah 300.000 jembatan itu hanya angka statistik di atas kertas pidato? Tolong Pak Presiden, jangan biarkan janji Bapak menguap sementara ratusan siswa di Way Bungur terus bertaruh nyawa dalam 4 kloter antrean setiap pagi.”

Menanti Kehadiran Negara

Fakta di lapangan menunjukkan, tiang-tiang pancang jembatan yang mangkrak menjadi saksi bisu kegagalan estafet pembangunan. Di Jakarta para elit sibuk bicara soal Indonesia Emas 2045, sementara di Way Bungur, ratusan “emas” masa depan bangsa itu masih harus antre meniti papan kayu yang licin di atas sungai yang keruh.

Hingga berita ini diturunkan, video tersebut terus dibagikan ribuan netizen, berharap viralnya penderitaan ratusan siswa Kalipasir dapat mengetuk pintu hati para pemimpin yang sedang duduk di istana. (HANDRI)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LENSA MEDIA adalah portal berita online dengan ragam berita terkini, lugas, dan mencerdaskan.

KONTAK

Alamat Redaksi : Jl.Batin Putra No.09-Tanjung Agung-Katibung-Lampung Selatan
Telp. 085267923352
E-mail : redaksi.lensamedia@gmail.com

STATISTIK PENGUNJUNG

To Top