TULANG BAWANG, Lensa Media – Kondisi infrastruktur di Kabupaten Tulang Bawang kembali menampar wajah pelayanan publik, memperlihatkan ironi di mana nyawa warga dipertaruhkan di tengah birokrasi yang seolah membatu. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulang Bawang dinilai tutup mata dan tutup telinga terhadap jeritan warga, khususnya terkait akses vital di jalan inspeksi yang menjadi nadi kehidupan masyarakat di Kampung Karya Jitu Mukti, Kecamatan Rawa Jitu Selatan.
Alibi klasik bahwa jalan tersebut merupakan aset pusat di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung tidak lagi dapat diterima sebagai pembenaran untuk berpangku tangan. Absennya upaya agresif Pemkab untuk berkoordinasi dengan pihak BBWS menimbulkan pertanyaan besar: di mana fungsi pemerintah daerah sebagai pengayom saat akses evakuasi medis lumpuh total? Masyarakat membutuhkan solusi nyata dan keselamatan, bukan sekadar lempar tanggung jawab administrasi.
Kritik keras ini mencuat setelah sebuah video memilukan viral di media sosial, memperlihatkan satu unit mobil ambulans bernopol BE 9621 TZ yang kesulitan menembus jalanan berlumpur tebal. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (12/02/2026) ini diunggah oleh akun Facebook Cempluk Purwanto, memperlihatkan bagaimana ambulans yang sedang membawa pasien rujukan harus berjibaku melewati jalan tanah yang hancur lebur menyerupai kubangan.
Dalam video tersebut, pengunggah menyertakan keterangan menohok, “Bagaimana gak keburu mati kalau jalan inspeksi RJS seperti ini, kebacut,” yang menggambarkan betapa krusialnya hambatan infrastruktur ini bagi keselamatan pasien yang membutuhkan penanganan medis segera atau golden hour.
Jeritan dan Amarah Warganet
Unggahan Cempluk Purwanto ini seketika memicu gelombang reaksi keras dari masyarakat Tulang Bawang. Kolom komentar dipenuhi luapan kekecewaan mendalam terhadap kinerja pemerintah daerah yang dinilai lamban, tidak peduli, dan kalah jauh dibandingkan kabupaten tetangga.
Akun Hari Yanto secara tajam membandingkan kinerja Bupati Tulang Bawang dengan Kabupaten Mesuji. “Itulah bupatinya Tulang Bawang, cuman rencana saja. Lain lho sama bupatinya Mesuji langsung kerja nyata, jalannya banyak dicor… contohnya di Panggung Jaya sudah bagus seperti jalan tol. Betul kan saudara-saudara,” tulisnya menyoroti ketimpangan hasil kerja nyata.
Senada dengan itu, akun Bojo Qu menyoroti prioritas anggaran yang dinilai tidak pro-rakyat. “Tulang Bawang dari dulu gak ada pembangunan jalan… uang habis buat foya-foya keluarga bupati. Kalau Mesuji bupatinya memang membela rakyatnya, jalan-jalan ke sawah aja dicor,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Kritik lebih fundamental dilontarkan oleh akun Dwi Purwanto yang menyebut kondisi pembangunan daerah ini sedang dalam kondisi kritis. “Tulang Bawang mati suri, tidak ada pembangunan sama sekali selain program dari pusat. Nggak tau kemana bupatinya,” sindirnya pedas.
Sementara itu, ironi kewajiban pajak dengan fasilitas yang didapat disuarakan oleh akun Tumiran Tani. “Penarikan pajak diharuskan bulan dan tanggal harus lunas. Setelah jalan gak bisa untuk kendaraan, pada kemana para pejabat,” keluhnya disertai emoji menangis, mempertanyakan timbal balik dari kewajiban warga yang telah ditunaikan.
Dugaan penyalahgunaan wewenang dan anggaran juga mencuat dari komentar akun Nova Nov yang menyebut, “Pejabat daerah cuma memenuhi kepentingan pribadi. Dana desa banyak disalahgunakan buat keperluan rumah tangga pribadi,”.
Rentetan komentar ini menjadi bukti bahwa meskipun secara teknis jalan inspeksi adalah kewenangan pusat (Kementerian PUPR/BBWS), secara moral Pemkab Tulang Bawang telah gagal hadir untuk berkoordinasi dan mendesak perbaikan demi keselamatan warganya sendiri.(HANDRI)

