Pringsewu,www.lensamedia.net – Program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), yang digadang-gadang sebagai investasi besar untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan generasi penerus bangsa, kini menuai sorotan di Kabupaten Pringsewu.
Pelaksanaan MBG di SPPG Insan Mulia Margakaya, Kecamatan Pringsewu, dikeluhkan sejumlah wali murid. Mereka menilai menu yang diterima anak-anak tidak sebanding dengan pagu anggaran yang telah ditetapkan pemerintah.
Secara teknis, program MBG dibagi menjadi dua kategori, yakni porsi kecil dan porsi besar.
Porsi kecil diperuntukkan bagi siswa PAUD, TK, serta SD kelas 1 hingga kelas 3. Sementara porsi besar diberikan kepada siswa SD kelas 4 hingga 6, SMP, dan SMA.
Berdasarkan kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN), pagu anggaran ditetapkan sebesar Rp8.000 untuk porsi kecil dan Rp10.000 untuk porsi besar per anak per sekali makan. Anggaran tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi harian siswa sesuai standar yang telah ditentukan.
Namun di lapangan, sejumlah wali murid menilai menu yang disajikan jauh dari ekspektasi.
“Menu hari ini, Senin 23 Februari 2026, anak saya dapat telur 1, kurma 3 biji, roti kecil 1, dan pisang 1. Kalau ditotal mungkin sekitar Rp6.000 sampai Rp7.000,” ujar salah satu wali murid.
Keluhan serupa datang dari wali murid siswa SMP Imbos yang enggan disebutkan namanya.
“Anak-anak SMP dapat telur 2, pisang 1, kurma 3 biji, dan cookies 1. Kalau dipikir-pikir, cukup tidak untuk kebutuhan gizi anak SMP dan SMA dengan menu seperti itu?” katanya.
Bahkan, seorang wali murid TK di Pringsewu meluapkan kekecewaannya melalui status WhatsApp. Ia mengunggah foto menu yang diterima anaknya.
“Hari ini anakku dapat MBG pakai kantong kresek, dapat pisang 1, kurma 3, roti mini 1, dan telur 1. Bukan tidak bersyukur, tapi lama-lama kebangetan cari untungnya,” tulisnya.
Keluhan-keluhan tersebut kemudian memicu pertanyaan publik mengenai kualitas, kelayakan, serta transparansi pengelolaan anggaran program MBG di tingkat dapur pelaksana.
Menanggapi hal tersebut, media ini melakukan konfirmasi kepada Kepala SPPG Dapur Insan Mulia Margakaya, Obby Ardhan, melalui sambungan telepon pada Selasa (24/2/2026).
Obby membantah tudingan bahwa pihaknya menyajikan menu hemat anggaran demi meraih keuntungan pribadi. Ia menegaskan bahwa seluruh menu telah disesuaikan dengan petunjuk teknis yang berlaku.
“Ini sudah sesuai dengan juknis, dan antara porsi besar dan porsi kecil memang berbeda,” ujarnya.
Terkait pagu anggaran, ia juga memastikan besaran dana mengikuti ketentuan pemerintah.
“Pagunya Rp10.000 untuk porsi besar dan Rp8.000 untuk porsi kecil,” jelasnya.
Munculnya berbagai keluhan ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah menu yang disajikan telah benar-benar memenuhi standar gizi sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional?
Sejumlah wali murid berharap BGN maupun instansi terkait dapat melakukan evaluasi dan memperketat pengawasan terhadap dapur-dapur SPPG agar pelaksanaan MBG berjalan sesuai tujuan awal.
Program yang dirancang sebagai langkah strategis meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia ini diharapkan tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi peserta didik.
Transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan ketat menjadi kunci agar program unggulan nasional ini tetap berada pada jalur yang semestinya—demi masa depan generasi bangsa.. (*)

