Tulang Bawang, Lensa Lampung – Infrastruktur jalan sejatinya adalah urat nadi kehidupan dan simbol kehadiran negara bagi rakyatnya. Namun, di Kecamatan Rawa Jitu Selatan, yang notabennya merupakan lumbung pangan dengan 90% penduduk bergantung pada sektor pertanian padi, kondisi “darurat jalan” justru menjadi momok yang mencekik ekonomi warga. Akses jalan yang layak bukan lagi sekadar kebutuhan teknis, melainkan persoalan harga diri dan hak warga negara yang selama ini terabaikan di tengah lumpur dan debu. Potret buram pembangunan ini terlihat nyata di Kampung Medasari, di mana jalan kabupaten penghubung Tulang Bawang dan Mesuji sepanjang 3 kilometer dibiarkan hancur selama lima tahun tanpa sentuhan pemerintah.
Ketimpangan Pembangunan: Mesuji Mulus, Medasari Terabaikan
Ironi pembangunan sangat dirasakan warga saat membandingkan kondisi wilayahnya dengan kabupaten tetangga. Ketua RK sekaligus Ketua Pokmas Kampung Medasari Pak Sutarji mengungkapkan perasaan pedih warga yang merasa dianaktirikan. Di saat wilayah Mesuji sudah menikmati akses jalan rigid beton yang mulus, warga Medasari justru harus berjibaku dengan lubang dan lumpur setiap harinya.
“Masyarakat mempertanyakan kepada Pemerintah Daerah, apa bedanya Tulang Bawang dan Mesuji? Di sana jalan sudah dicor beton dan mulus, sementara di tempat kami sudah 5 tahun rusak parah. Sampai sekarang tidak pernah dikunjungi oleh DPRD maupun Bupati,” tegas Pak Sutarji dengan nada kecewa.
Satu Dekade Gotong Royong dan Dana Swadaya
Ketiadaan perhatian dari pemerintah memaksa warga untuk mengambil alih tanggung jawab negara. Selama 10 tahun terakhir, perbaikan jalan hanya mengandalkan tenaga gotong royong dan pendanaan swadaya dari kantong masyarakat sendiri. Bagi warga yang mayoritas adalah petani sawah, beban ini dirasa kian berat karena harus membagi hasil tani yang tak seberapa untuk menambal akses distribusi hasil panen mereka.
Minimnya kehadiran pejabat publik di lapangan mempertebal rasa skeptis warga. Aspirasi yang disampaikan seolah hanya menguap tanpa ada tindak lanjut nyata dari para wakil rakyat maupun kepala daerah.
Harapan pada Bukti Nyata, Bukan Sekadar Janji
Kini, rasa sabar masyarakat telah mencapai titik jenuh. Kondisi jalan yang rusak tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga melukai perasaan warga yang merasa kontribusi mereka sebagai petani tidak dihargai dengan fasilitas publik yang layak.
“Ini masyarakat sudah mengeluh, sakit perasaannya. Mohon responnya para anggota dewan dan Pak Bupati. Tolong kunjungi kami, karena kami butuh bukti nyata, bukan sekadar janji-janji,” pungkasnya menutup keluhan tersebut.
Masyarakat Kampung Medasari kini menanti langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang agar perbaikan jalan 3 kilometer tersebut menjadi prioritas utama, demi menjamin kelancaran aktivitas pertanian dan ekonomi di wilayah Rawa Jitu Selatan.(HANDRI)

