Tulang Bawang, Lensa Media – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto sejatinya membawa niat mulia: memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan asupan gizi seimbang demi mencetak generasi emas yang cerdas dan sehat. Namun, niat luhur di tingkat pusat ini tampaknya berbenturan keras dengan realita pahit di lapangan.
Bukannya hidangan sarat protein dan vitamin yang tersaji, anak-anak di daerah tertentu justru disodorkan menu makanan yang jauh dari standar kelayakan gizi. Fenomena ini memunculkan kecurigaan publik mengenai adanya indikasi penyimpangan anggaran dan hilangnya empati dari pihak penyedia makanan. Program andalan pemerintah ini pun terancam hanya menjadi laporan formalitas atau bahkan ladang meraup keuntungan pribadi bagi oknum tak bertanggung jawab.
Kekecewaan mendalam ini meledak di media sosial pada Rabu siang (25/2/2026). Seorang warga dengan akun Facebook Memey Maniez, meluapkan amarahnya terkait kualitas menu MBG yang dibagikan untuk siswa TK IT Cendikia Tulang Bawang.
Dalam unggahannya yang disertai foto bukti makanan, terlihat menu yang disajikan sangat memprihatinkan. Di dalam wadah plastik bening tersebut hanya berisi beberapa potong singkong rebus/goreng, sebutir telur asin, dan satu potong gorengan. Tidak terlihat adanya sayuran, daging, buah segar, atau susu yang lazimnya wajib ada dalam standar makanan bergizi anak.
”MBG ini layaknya buat makan anak binatang, bukan buat makan anak manusia. Jauh dari kata bergizi, yang ada cuma jadi ajang korupsi,” tulis akun Memey Maniez dalam unggahannya.
Ia mengecam keras pihak dapur MBG TK IT Cendikia dengan menyebut kelakuan mereka sudah melewati batas dan menzalimi anak-anak sekolah.
“Saya lihat bentuknya saja jijik, apalagi disuruh anak kami makannya. Kalian kalau mau korupsi mbok ya jangan kelewat batas kayak gini,” tambahnya dengan nada geram.
Banjir Kecaman Warganet: Soroti Dugaan Korupsi hingga Sentil Laporan ‘Asal Bapak Senang’
Unggahan bernada kekecewaan tersebut dengan cepat memantik reaksi keras dari para pengguna media sosial lainnya. Mayoritas warganet menduga adanya praktik penyelewengan dana dalam pelaksanaan program di tingkat daerah.
Akun Raraa Mutia, misalnya, membandingkan sajian di Tulang Bawang dengan wilayah Penawartama yang setidaknya masih menerima susu, roti, dan buah salak, kendati buah yang diterima anaknya diakui dalam kondisi busuk. Ia secara blak-blakan menyindir pihak penyedia dengan menuliskan, “Selebihnya masuk kantong itu dananya bun, buat gedein perut dia orang.”
Selain dugaan pemotongan anggaran, minimnya kreativitas pihak dapur penyedia makanan juga menjadi sasaran kritik. Akun Yeni Eka Wati menyarankan agar bahan baku seadanya bisa diolah menjadi hidangan yang lebih menarik dan menggugah selera anak-anak, bukan disajikan asal-asalan. “Mending kreatif dikit ya moms… sepertinya lebih enak dilihat,” sarannya.
Lebih dari sekadar kelayakan visual dan gizi, masalah keamanan pangan juga menjadi sorotan tajam masyarakat. Akun Samsi Doang memberikan peringatan serius terkait lauk telur asin yang dibagikan. Ia mengklaim bahwa sebelumnya sempat terjadi banyak kasus anak keracunan akibat konsumsi telur asin di wilayah Menggala, sehingga kebersihan dan kualitas makanan dari dapur penyedia patut dipertanyakan.
Puncak dari rentetan kekecewaan masyarakat ini bermuara pada desakan agar pemerintah pusat tidak menutup mata. Melalui kolom komentar, akun Saparudin Balga secara langsung menyebut nama Presiden agar meninjau realita pahit di lapangan. “Bapak Prabowo Subianto dengarkan keluhan di lapangan, ini fakta. Jangan hanya dengar dan senang dengar laporan ‘Asal Bapak Senang’,” tegasnya.
Keluhan viral dari masyarakat Tulang Bawang ini menjadi tamparan keras bagi pelaksanaan program MBG di daerah. Hal ini menuntut adanya investigasi menyeluruh dan pengawasan ketat dari instansi terkait—baik Dinas Pendidikan maupun aparat penegak hukum—agar dana yang digelontorkan negara benar-benar masuk ke perut anak-anak dalam bentuk gizi, bukan menguap ke kantong oknum tak bertanggung jawab.(Handri)

