Banjar Agung Tulang Bawang, Lensa Media – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kabupaten Tulang Bawang kini berada di bawah pengawasan ketat masyarakat. Hal ini dipicu oleh temuan label harga pada paket kudapan yang diproduksi oleh SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Berlian Tunggal Warga, Kecamatan Banjar Agung, yang dinilai tidak transparan dan cenderung menggelembungkan harga pasar.
Dalam foto label informasi gizi yang beredar luas, paket menu untuk hari Senin, 09 Maret 2026, mencantumkan total nilai Rp 7.700 per porsi kecil. Namun, rincian harga satuan di dalamnya justru memicu gelombang kritik dari warga net dan pemerhati kebijakan publik.
Rincian Menu dan Indikasi Penggelembungan Harga
Hasil penelusuran terhadap label resmi tersebut mengungkap tiga komponen utama yang harganya dinilai jauh melampaui standar harga pasar di Tulang Bawang:
- Onde-Onde (Rp 2.200 per butir): Harga ini menjadi poin paling krusial. Di pasar tradisional wilayah Banjar Agung, satu butir onde-onde umumnya dijual berkisar Rp 1.000 hingga Rp 1.500. Mematok harga Rp 2.200 untuk satu butir dalam pengadaan massal mengindikasikan adanya selisih (margin) yang sangat besar.
- Kurma (Rp 2.000): Paket tersebut diketahui hanya berisi beberapa butir kurma dalam kemasan plastik klip. Jika dikonversi ke harga kurma grosir, nilai Rp 2.000 per porsi dinilai tidak proporsional dengan volume yang diberikan.
- Susu UHT (Rp 3.500): Meski terlihat mendekati harga retail minimarket (Rp 3.000), namun untuk kontrak pengadaan pemerintah dalam skala besar, harga Rp 3.500 justru dianggap “mahal” karena seharusnya penyedia bisa mendapatkan harga distributor yang jauh lebih rendah.
Kesenjangan Anggaran: Ke Mana Sisanya?
Persoalan ini semakin meruncing ketika total nilai pada label (Rp 7.700) disandingkan dengan pagu anggaran MBG yang diketahui. Berdasarkan informasi yang dihimpun, anggaran per porsi mencapai Rp 15.000, di mana sebagian di antaranya sudah dialokasikan untuk biaya operasional dapur, bayar listrik, dan lain-lain.
Adapun anggaran bersih yang seharusnya diterima dalam bentuk makanan adalah sebesar Rp 10.000 untuk siswa kelas 4 SD sampai SMA serta ibu hamil dan menyusui. Sementara itu, anggaran sebesar Rp 8.000 diperuntukkan bagi anak kelas 3 SD hingga tingkat PAUD dan Balita.
Melihat angka pada label yang hanya sebesar Rp 7.700, kemungkinan besar menu tersebut adalah jatah untuk kategori Balita atau PAUD hingga SD kelas 3. Namun, muncul pertanyaan besar karena angka tersebut tetap berada di bawah pagu Rp 8.000, ditambah lagi dengan indikasi mark-up harga satuan per item yang membuat nilai gizi riil yang diterima anak diduga jauh lebih rendah dari yang tertera.
Suara Masyarakat dan Netizen
Berbagai komentar pedas mewarnai unggahan Akun Facebook Siti Badriah Nasa yang memviralkan temuan ini, Senin (09/03/2026). Seperti yang diungkapkan oleh Akun Reni Sparkling menuliskan komentar, “1000 dadi 2200 OMG, MBG makin kesini makin anu,” merujuk pada keheranannya atas lonjakan harga tersebut.
Sementara itu, Akun Reni Sintya Rahayu menyoroti ketimpangan budget, “Kalau anggaran 8k/10k berarti kurang dong budget-nya, itu total hanya 7.700.”
Kritik juga datang dari Akun Arsya Gilangkeyza yang membandingkan ukuran fisik makanan dengan harganya. “Onde-onde Rondo yang segede itu aja cuma 2rb. Lah ini cuilik 2.200,” tulisnya.
Hingga saat ini, pihak SPPG Berlian Tunggal Warga maupun otoritas terkait di Kabupaten Tulang Bawang belum memberikan keterangan resmi mengenai standar penentuan harga satuan dalam label tersebut. Wartawan Lensa Media mencoba menyambangi Dapur MBG tersebut pagi tadi namun menurut penjaga security Kepala SPPGnya belum datang pada pada saat itu waktu sudah menunjukkan jam 09.40 Wib. Publik kini mendesak adanya transparansi dan audit menyeluruh terhadap operasional dapur-dapur MBG nakal agar program nasional ini tidak menjadi ladang baru bagi praktik mark-up yang merugikan hak gizi anak-anak sekolah.(HANDRI)

